Patung Mini

SUMEDANG, bandungkiwariApa jadinya apabila menikmati karya patung harus menggunakan kaca pembesar? Mungkin susah membayangkan menikmati karya seni harus seperti itu. Namun, itulah yang harus dilakukan jika melihat karya patung mini buatan tangan Hendri Sanjaya (35), pemuda desa Cibeusi, Kabupaten Sumedang yang berukuran paling kecil 2 milimeter.
Menikmati karya patung Hendri, memang harus agak membelalakkan mata karena ukuran patungnya tidak lebih besar dari biji beras. Meskipun sebenarnya Hendri membuat pula patung-patung berukuran besar, seperti umumnya karya seniman patung lain. Namun kegemarannnya membuat karya patung mini memberi sensasi lebih pada sensibilitas estetik yang dimilikinya.
Hendri pertama kali membuat patung mini pada 2008 lalu. Proses awal pembuatan patung mini tiada lain karena jenuh menyergap dirinya setelah lama membuat patung berukuran besar. Bermula dari keisengan itulah akhirnya Hendri mulai membuat beragam karya patung mini yang ukurannya paling kecil 2 milimeter.
Ketertarikan membuat patung mini tersebut, dilandasai karena tantangan yang luarbiasa dalam proses pembuatannya. Apalagi selama ini jarang seniman patung yang membuat karya berukuran kecil. Ditambah pada sisi lain dirinya tertantang untuk mampu membuat detail patung, meski ukuran yang dibuat begitu kecil dan memiliki risiko tinggi dalam pengerjaannya.
Membuat karya patung berukuran besar, Hendri mengaku tidak terlalu “repot” dalam mencukil atau memahat. Namun dalam patung mini, tingkat kesabaran dan ketenangan menjadi faktor utama dalam berproses.
“Tidak tentu berapa lama membuat patung mini ini. Tergantung mood. Kalau mood lagi bagus hitungan jam bisa selesai,” jelas Hendri ketika BandungKiwari temui di teras rumahnya yang sederhana.
Berangkat dari persoalan rasa itu pula, Hendri tidak menganggap karya patung mininya sebagai kerajinan. Baginya patung tersebut merupakan ruang katarsis yang harus mendapat perlakuan berbeda dari karya-karya lain yang dibuatnya. Untuk itu dirinya pun memilih menjual karyanya hanya kepada orang yang paham arti seni patung.
Hal tersebut menjadi alasan Hendri mempertahankan karyanya, meski semua patungnya dibuat dari bahan limbah kayu yang bisa ditemukan di manapun. Apalagi jika merunut pada nilai jual harga patung mini yang menurutnya tidak bernilai.
“Bingung juga kalau mematok harga untuk karya ini. Poek (gelap),” jawab Hendri ketika ditanya berapa nilai nominal patung mini buatannya.
Meski Hendri menahan diri untuk tidak menjual, peminat patung mini terus berdatangan untuk mendapatkan karyanya. Akhirnya pada 2017 lalu sebanyak 10 buah karyanya dimiliki kolektor dari Jepang.
“Sebenarnya karya ini dipertahankan untuk pameran,” tegas Hendri yang juga mencintai dunia petualangan gunung dan rimba ini.
Namun, hingga kini keinginan untuk berpameran masih menjadi mimpi yang belum terwujud. Hal itu tiada lain karena faktor biaya. Bagi seniman otodidak dan tradisional, pameran tentu merupakan hambatan terbesar dalam memancuh namanya di ranah kesenian. Berbeda dengan seniman akademis yang dengan mudah membuat pameran karena adanya jaringan antarseniman.
Pernah juga Hendri diundang pemerintah setempat yang mengajaknya berpameran. Namun entah kenapa hingga saat ini hal itu belum terlaksana. Sebenarnya keinginan berpameran tersebut bukan hanya untuk menghadirkan namanya di kancah seni patung Jawa Barat atau Indonesia. Pameran adalah sebuah bentuk kepedulian terhadap kampung pengrajin yang telah membesarkannya selama ini.
“Dulu kampung ini dipenuhi para perajin patung. Bahkan sebelum Cipacing terkenal sebagai pusat penjualan produk seni, kampung ini lebih dulu menjadi penyuplai barang seni ke seluruh Indonesia,” jelas Hendri sambil menerawang, menyaksikan ikan gupy yang melambaikan kenangan di kolam kecilnya.
Senada dengan itu Mang Ujang, paman Hendri yang juga membuat beragam patung, menjelaskan kampung pengrajin dahulu sebagai sentra kerajinan. Namun, era 2008 produksi kerajinan dan karya seni terutama patung, perlahan mati dan hanya menyisakan 3 orang seniman, termasuk Hendri salah satunya.
Hal tersebut terjadi karena masalah manajemen perajin dan hadirnya para tengkulak seni yang membeli kerajinan dengan harga yang sangat murah. Sementara para perajin mengetahui secara benar harga barang mereka yang dijual di pasaran.
“Kemarin masih sempat ada orang datang memesan patung satu paket harganya 25 ribu. Bayangkan saja bahan dari saya dan harus mulus diamplas,” ujar Mang Ujang menjelaskan dengan nada kecewa kepada penjual barang seni.
Karena tawaran dari orang itu tak sebanding dengan modal, permintaan itupun tidak diluluskan Mang Ujang.
Percakapan di terik matahari yang dibelai lembut angin dari dedaunan yang rindang di kampung pengrajin, membuat mimpi Hendri dan Mang Ujang kembali hadir.
“Mimpi saya ingin menghidupkan kembali kampung ini sebagai pusat kerajinan,” imbuh Hendri yang merindukan kembali bunyi pukulan palu menghantam pahat riuh di kampungnya. (Agus Bebeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *